PAPKI - Perhimpunan Akademi dan Politeknik Katolik Indonesia

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
  • default color
  • black color
Home PAPKI BERITA/ARTIKEL

INFO PAPKI

Sikap Kreatif di Zaman Edan

Diceritakan, ada seorang anak yang begitu badung sampai-sampai orang tua dan guru-gurunya kewalahan menghadapinya. Karena kebadungannya itu, seorang tokoh yang disegani di kampungnya geram dan memberi nasihat kepada anak tersebut agar mengubah perilakunya yang buruk itu. Setelah mendapat pelajaran, anak itu berkata, “Setelah mendapat pelajaran dari Bapak, saya justru lebih takut kepada tetangga Bapak di seberang sana.” Kebetulan, persis di seberang rumah si tokoh itu, tinggal seorang tukang jahit. “Kenapa malah takut dengan dia?”, tanya sang tokoh tak habis pikir. Lalu anak itu menyahut, “Pak, jin saja mampu dipermak, apalagi manusia..” Di pintu depan rumah penjahit itu memang tercantum tulisan: Ahli Permak Jins.

Sikap kreatif sungguh dibutuhkan di zaman edan. Sekarang ini kita hidup di zaman edan. Zaman edan itu terlihat dari adanya kejadian-kejadian yang berlawanan atau kontradiktif di tengah-tengah kehidupan berbangsa dan bernegara kita. Berikut ini beberapa di antaranya. Kita meminta kebebasan dalam berdemokrasi, tapi kenyataannya rakyat dikooptasi oleh penguasa. Kita menyebut Republik ini demokratis, padahal perbuatan para pemimpin lebih mencerminkan aristokrasi, di mana hanya sekelompok kecil saja (tapi mengatas-namakan rakyat) yang memegang kekuasaan. Praktek KKN (kolusi, korupsi, dan nepotisme) masih berlangsung dengan kualitas yang lebih canggih. Kita menolak larangan pembentukan partai politik, tetapi ternyata partai politik tidak mampu memberikan pendidikan politik untuk memunculkan pemimpin berkarakter seperti yang kita dambakan bersama. Kita menuntut otonomi daerah supaya ada pemerataan pembangunan, tetapi yang terjadi malah tampilnya rajaraja kecil dan sekelompok orang yang menikmati kekayaan negara. Sesuai UUD 1945, kita menganut sistem presidential, tetapi yang dibangun adalah system parlementer, yang mengakibatkan pemerintah sibuk dengan kompromi-kompromi.

Zaman edan terjadi karena kekeliruan kita menafsirkan kebebasan. Ada beberapa kesalahan yang telah kita lakukan. Kita salah memilih pemimpin. Kita tidak memilih negarawan atau tokoh yang menggunakan politik sebagai alat untuk mencapai tujuan negara dan rakyat, melainkan pemimpin-tokoh yang memanfaatkan negara untuk memuaskan kebutuhan primordialnya. Pemimpin sekarang ini lebih mengandalkan citra daripada konsep yang jelas dalam pembangunan. Sepertinya, rakyat memang terpaksa memilih yang terbaik di antara yang terburuk. Kita salah berpartai. Sekarang ini partai telah berubah fungsi menjadi seperti bunker politik. Partai telah memonopoli penentuan calon pemimpin, sehingga peluang akan munculnya calon pemimpin alternatif hampir mustahil.

Kita salah dalam pembangunan dan berprogram kerja. Sekarang ini pembangunan nasional dititikberatkan pada pembangunan ekonomi, dan celakanya lagi, tidak dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan. Sebagai contoh, kita sekarang mengimpor garam dari India, yang luas lautnya jauh lebih kecil dari luas laut kita. Kesinambungan pembangunan bukan berarti setiap tahun kita mengadakan investasi, melainkan pada setiap tahap mengadakan investasi seharusnya dimungkinkan terjadinya peningkatan mutu pada tahapan berikut.

Kita salah faham dalam memanfaatkan kekayaan alam. Pemanfaatan alam lebih didominasi kebijakan aji

mumpung, mumpung lagi berkuasa. Lebih parahnya lagi, pengelolaan kekayaan alam banyak dipercayakan kepada swasta yang kemudian dengan rakus mengurasnya. Sementara sebagian yang masih dikuasai oleh Negara juga dieksploitasi untuk kepentingan pihak tertentu. Rakyat tidak pernah kebagian. Karena itu, pemimpin negara ini perlu belajar dari Alexis de Tocqueville (1805-1859), tokoh yang mempelajari dinamika politik Amerika Serikat. Ia pernah mengatakan bahwa suatu kekuatan demokrasi tidak akan melemah karena kekurangan tenaga atau sumber-sumbernya, tetapi bisa jatuh tersungkur akibat terjadinya kekeliruan dalam pengarahan kekuatan atau penyalahgunaan sumbersumber yang tersedia. Sudah saatnya bangsa kita mengubah paradima terhadap kekayaan alam, yakni bukan sebagai warisan nenek moyang, melainkan sebagai pinjaman dari generasi yang akan datang.

Kita salah tingkah. Kita telah berulang kali mengubah UUD, tetapi hasilnya tetap saja tidak ada perbaikan. Dan kalau ditanya mengapa tidak terjadi perbaikan, jawaban yang muncul ialah karena kita masih dalam masa ‘transisi’ yang rupa-rupanya tidak kunjung berakhir. Selalu saja ada alasan pemimpin bangsa ini untuk menutupi kebohongan. Ketika terjadi perpecahan di berbagai wilayah di Indonesia, pemimpin menyebutnya sebagai dinamika politik. Sekarang ini, kita patut bertanya tentang masa depan bangsa ini, karena Pancasila telah menghilang pengaruhnya, dan sila pertama mulai berubah

menjadi Keagamaan yang maha Esa.

Zaman edan mengakibatkan timbulnya stres dan frustasi pada masyarakat akar rumput, yang gampang

meledak. Perkelahian, tawuran massa, gerakan separatis bermunculan sebagai ajang pelampiasan kekecewaan. Di masyarakat kita terjadi distorsi pola pikir, dan tanggung jawab moral semakin memudar, terutama di kalangan politikus, birokrat, dan pebisnis. Susahnya, dalam organisasi modern seperti sekarang ini, tidak mudah menentukan siapa yang salah, karena semuanya sudah terspesialisasi, di mana seseorang hanya melakukan sebagian dari keseluruhan kegiatan. Maka terjadilah seperti yang dikatakan oleh pengamat modernisasi Zygmunt Bauman, timbulnya dosa tanpa pendosa, salah tanpa pembuat salah, kejahatan tanpa penjahat, korupsi tanpa koruptor. Akhirnya, yang disalahkan adalah prosedur atau sistem.

Apakah masih ada harapan di zaman edan ini? Masih. Setiap anak bangsa harus yakin bahwa masih ada

harapan di tengah berbagai persoalan yang melanda. Pepatah Amerika mengatakan: The soul would have no rainbow if the eyes had no tears. Yang menjadi tumpuan harapan adalah pemuda-pemudi. Salah satu hal yang harus dijadikan prinsip bagi generasi muda adalah keberanian menjadi seorang pemimpin. Mengacu ke mitos dalam Alkitab, selalu saja ada yang terpanggil untuk membebaskan kaumnya dari penindasan. Mitos pembebasan Musa dan Yakob menunjukkan perlawanan terhadap tatanan yang ada.

Munculnya Soekarno, Hatta, Sjahrir, dan para pendiri bangsa Indonesia lainnya merupakan bukti sejarah

yang menguatkan harapan itu. Pemimpin harus berani membuat keputusan. Seorang pemimpin harus memiliki sikap yang teguh untuk mengambil keputusan. Tidak mengambil keputusan memang suatu keputusan, tetapi merupakan keputusan yang terburuk. Pemimpin harus memiliki etika masa depan. Untuk menjadi pemimpin bangsa, para pemuda haruslah memiliki etika masa depan, berorientasi ke masa depan dan berkeinginan untuk menjadikan Indonesia yang lebih baik. Seorang pemimpin hendaknya tidak bersikap reaktif, melainkan antisipatif, dapat meramalkan apa yang akan terjadi. Ia harus mengerti apa yang dibutuhkan oleh rakyat, bahkan sebelum rakyat tersebut menyadarinya (to govern is to see).

Seorang pemimpin tidak boleh takut menyatakan pendapatnya walaupun terkadang orang-orang cenderung menjelekkannya. Jika pemimpin punya visi yang benar, ia harus berani mempertahankannya. Seorang pemimpin harus siap menerima risiko tidak dipahami, karena seseorang yang bisa melihat masa depan cenderung tidak dipahami, seperti Kristus dan Nabi Muhammad. Seorang pemimpin harus berjiwa seperti Musa yang berhenti di luar gerbang tanah terjanji dan menyerahkan tampuk pimpinan kepada Joshua untuk membawa bangsa Israel memasuki tempat tersebut. Berbeda dengan Musa, pemimpin sekarang setelah merasa telah mengantar rakyat ke gerbang malah buruburu masuk duluan. Pemimpin harus menyiapkan masa depan seperti Abraham yang meninggalkan tanahnya dan segala kenyamanannya untuk pergi mencari masa depan.

Seorang pemimpin harus menjadi spesialis dalam konstruksi keseluruhan. Artinya, ia harus bisa mencakup dan merangkul semua lapisan masyarakat yang ada, mengingat Indonesia yang merupakan negara majemuk. Seorang pemimpin harus bertindak adil, tidak boleh memiliki sifat egois, diskriminatif, hanya menguntungkan diri sendiri dan kelompoknya saja. Terkait hal ini, Bung Karno pernah mengatakan bahwa kemerdekaan itu adalah jembatan emas. Dapat kita bayangkan, kalau jembatannya saja sudah emas, apalagi yang dituju di seberang sana. Sayangnya, jembatan emas itu sekarang telah diduduki oleh pihak tertentu saja.

Dr. Daoed Joesoef : Jurnal Bhumiksara

Artikel ini merupakan ringkasan presentasi Dr. Daoed Joesoef pada tanggal 15 Agustus 2011 di Universitas Atma Jaya, Jakarta.

Daoed Joesoef merupakan mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (1987-1983)

 

Dicari Pemimpin yang Melayani

MENANGGAPI masalah krisis kepemimpinan, dari sudut pendidikan, patut diajukan sebuah pertanyaan: dapatkah Sekolah atau Perguruan Tinggi (PT) sebagai lembaga pendidikan menjadi tempat pesemaian atau “breeding ground” atau “seminarium” kader pemimpin?

Read more...
 

Panggilan Kaum Cendekiawan Katolik dalam Masyarakat Pluralistik

AJARAN Konsili Vatikan II tentang Kerasulan Awam berdasarkan pandangan tertentu tentang hakekat Gereja, yaitu bahwa Gereja bukan pertamatama hirarki; para uskup dan pastor, atau kaum rohaniwan/rohaniwati, melainkan seluruh umat; mereka yang percaya kepada Yesus Kristus, Sang Sabda Allah dan Penebus. Mereka dipersatukan oleh sakramen babtis dalam Gereja hirarkis. Seluruh umat Katolik adalah Gereja Katolik. Oleh karena itu perutusan Gereja untuk menjadi saksi Kristus sampai batas bumi dan akhir zaman pun merupakan panggilan seluruh umat. Seluruh umat dipanggil menjadi rasul. Jadi kaum awam juga dipanggil. Kerasulan awam itu bukan lain daripada partisipasi kaum awam dalam kerasulan seluruh Gereja. Mereka bukan sekadar membantu dalam pelbagai kegiatan Gereja. Mereka dipanggil menjadi saksi Kristus dalam masyarakat, mewartakan Kabar Gembira dan secara nyata menyebarkan keselamatan Allah. Mereka menjadi ‘garam dunia’.

Read more...
 

Pemimpin yang Kita Harapkan: Profesional dan Beriman Teguh

Pemimpin yang Kita Harapkan: Profesional dan Beriman Teguh


SEKARANG ini kita membutuhkan pemimpin yang profesional, bermoral kuat, dan bertanggung jawab. Saat ini rakyat sangat mendambakan pemimpin yang memperhatikan kesejahteraan rakyat banyak, karena memang itulah landasan dan tujuan adanya masyarakat dan negara. Suatu negara itu ada demi kesejahteraan rakyat, yang di dalamnya tercakup keadilan sosial. Pemimpin yang demikian itu diharapkan juga mempunyai iman yang teguh, sebab justru dari penghayatan imannya itulah terpancar seluruh integritas dirinya dalam hidup bersama dengan sesama.

Read more...
 
  • «
  •  Start 
  •  Prev 
  •  1 
  •  2 
  •  Next 
  •  End 
  • »
Page 1 of 2